Jumat, 12 November 2010

Kenangan Kecil yang Besar

Gadis kecil yang dulu pernah bermain bersama aku dan teman-temanku, 10 tahun yang lalu dia pergi tingal kan kami di kota jogja ini. Dia pergi ke jakarta karena pekerjaan ayahnya yang harus membuat mereka sekeluarga tinggal di Jakarta.Sore itu dia datang ke rumah ku sabtu sore lalu tepatnya 1-mei-2010 dia datang secara tiba-tiba. Pertama melihat dia aku lupa siapa dia , tapi sepertinya pernah ku lihat dia. Kini dia masi berdiri di depan pintu. Dia pun menapaku “hay dik apa kabar,masih ingatkah kamu kepadaku??”. Aku hanya menggelengkan kepala dia pun merespon dengan menjawab “aku Mbak lia yang dulu sering main sama kamu waktu kecil”. Dan aku tercengang melihat dia dengan rasa tak percaya, seorang putri kecil yang meninggal kan kawanya dulu sekarang tumbuh bak permaisuri yang cantik jelita. Aku pun mulai ingat nama nya “Putri Chika Yuliana” memang dia sering main dengan ku dan temen-temenku saat kecil dulu, memang dulu aku sering panggil dia mbak lia. Aku pun mempersilah kan mbak lia masuk ke dalam rumah ku yang sedikit agak kotor. Mbak lia sempat susah mencari alamat ku yang kini, sebab rumah yang dulu aku tinggali dan berdekatan dengan rumah mbak lia sudah di beli orang. Setelah Mbak Lia masuk dia menanyakan cerita aku dan temen-temen ku setelah Mbak Lia pergi. Aku pun berkata jujur apa adanya beberapa bulan setelah Mbak Lia pergi ke Jakarta kami jadi gak kompak lagi seperti, gak sama lagi dengan adanya Mbak Lia dulu. Aku,Aang,Riski,Adi,Dimas,Adis, Ayuk, Ista,Nungki,Febri,Wulan,& semuanya (maaf kepadda kawan kawan ku yang tak aku sebut). Kini sudah bercerai berai tanpa adanya canda tawa riang gembira bersama seperti dulu lagi, dan inilah kenyataanya sekarang.
Setelah ngobrol-ngobrol asik gak dan kedua orang tuaku belum pulang juga dari kerjaan mereka di sleman. Mbak Lia pun mengaja aku jalan-jalan di sekitar rumahku untuk mengenang masa lalu, masa kecil kita bersama yang dulu sangat lah inda. Memang m\Mbak Lia dulu dalah temen yang sering main dengan aku dan sering di suruh kedua orang tua ku untuk menjaga aku sekalian bermain bersama, oleh karena itu kami jadi sering main bereng-bareng. Selama berjalan-jalan aku dan Mbak lia bertemu dengan tementemen ku dulu yang terlihat cuek dan sok gak kenal (maaf nama gak aku sebut). Dan tak jauh dari itu sampailah kami di sebuah pohon yang cukup rindang...dulunya dan sekarang tinggal ½ karna sudah di tebang. Mbak Lia tanya padaku apa kamu ingat gara-gara kamu kita hampir celaka di pohon itu. Aku pun ingat, memang suatu kecil dulu aku dan temen-temen ku sering main di situ yang ada rumah pohonya. Aku menceritakan kejadian nya lagi, waktu itu kami sedang main rumah-rumahan di situ dan entah kenapa aku terpeleset dan tak sengaja menarik tangan mbak lia dan aku bergelantungan di jarak 2-3 meter di atas tanah. Untung lah ada temen-temen ku yang sigap dan meolong kami berdua saat itu. Aku dan Mbak Lia tertawa kecil mengingat kejadian konyol waktu di rumah pohon itu, andai rumah pohon itu ada pasti kami berdua akan menaiki nya lagi, tapi sayang pohonya sudah di tebang dan rumah pohonya sudah di bongkar
Selepas kami berjalan jalan kami kembali kerumah ku dan beristirahat sebentar dan persiapan karna setelah maghrib mbak lia ngajak aku dan adis jalan-jalan dan makan di suatu mall. Sesampainya kami di rumah kedua orang tuaku sudah datang dan mereka menanyakan dia siapa, aku pun menceritakan kepada mereka siapa dia dan mengapa dia disini, setelah kedua orang tuaku tau siapa dia mereka kini gantian saling bercerita dan menanyakan kabar. Dan saat itu pula kesempatan ku untuk mandi. Setelah mandi dan semua selesai kami pun berangkat menuju mall tersebut dengan jalan kaki. Setelah sampi di sana kami langsung duduk dan ngobrol tentang masa-masa indah kebersamaan kami lagi seperti dahulu. Dan indah nya kota jogja ini dan pengalaman saat terjadi gempa. Adis pulang duluan karna di cari pacarnya mau di ajak jalan. Setelah kami makan bersama mbak lia ngajak aku jalan-jalan ke malioboro selain untuk membuli oleh oleh untuk kluarga di Jakarta, juga untuk melepas rasa rindu akan suasana Jogja.
Setelah agak malam kami pun mulai kembali kerumah naik becak. Malam pun kini sudah menampakan keheningannya dan gelapnya serta kesepianya . jalan jalan di akhir pekan bersama seorang sahabat yang dulu deket dengan kita pasi asik apa lagi kalau saat malam jalan jalan di hiasi lampu kota yang bersinar terang dan suara kendaraan yang mulai sedikit dalam pekatnya malam. Sepanjang perjalanan menuju rumah ku mbak lia menceritakan kehidupannya di Jakarta , memang benar apa kata orang di Jakarta itu keras. Waktu masuk smp dulu pas awal MOS sudah ada temen se-angkatan dan kakak kelas yang ngebenci dia entah apa alasanya sampai sekarang Mbak lia gak tau. Sesampainya di rumah lampu sudah padam dan keadaan nampak sepi. Kami pun langsung masuk kedalam kamarku aku tidur di kasur dan mbak lia menggelar tikar dan tidur di bawah. Dan sambil cerita betapa kanngen nya dia sama jogja ini. Dan dia cerita apa lagi aku gak tau soalnya setelah itu aku langsung tidur ,soalnya suaaranya indah aku malah sperti jadi di dongengin...wkwkwkkwkw...
Ke-esokan paginya seperti biasa aku bangun pagi pagi untuk bantuin ayahku nganterin koran. Pagi pagi sekitar subuh aku sudah sampai di rumah aku langsung keatas dan aku melihat mbak lia tertidur pulas nampak kelelahan. Aku gak tega bangunin mbak lia padahal aku ignin ngajak dia jalan jalan pagi hari. Ku pun beranikan diriku untuk membangunkan mbak lia. Setalah Mbak lia bangun aku mengajak dia untuk jalan pagi. Aku mengajak mbak lia ajalan jalan melewaati beberapa jalanan kota yang masih sepi tanpa lalu lalang kendaraan bermotor dan sejuk nya udara yang belum terpolusi asap kendaraan. “Baru kali ini aku merasakan udara yang sejuk dan segar seperti ini setelah hampir sepuluh tahun lama nya tak seperti ini” mbak lia mengungkapkanya padaku. Setelah agak lelah kami pun kembali pulang kerumahku dan tak lupa membeli gudek untk kami makan.
Siang harinya mbak lia ngajak aku lagi buat jalan jalan di salah satu mall terbesar di kota Jogja. Mbak lia tak lupa mengajak Aan dan Ayuk bergabung bersama untuk makan-makan dan jajan bareng-bareng. Selama menunggu pesenan datang kami ngobrol tentang mengapa kami jadi gak kompak lagi setelah mbak lia pergi. Aang dan Ayuk hanya membatu dan tak menjawab pertanyaan itu. Beberapa saat itu susana menjadi agak sepi tanpa obrolan kecil. Beberapa saat kemudian Mbak lia mulai menanyakan tentang keadaan mereka dan gimana menurut mereka tentang seluk beluk kota jogja ini. Tak lam kemudian pesanan kami sudah datang dan tak lama kemudian kami menyantapnya bersama sama. Saat makan Aang pamit karna tadi sempat di telfon ayah nya dan katanya dia harus nyari sesuatau sekarang juga karna pnting. Katanya gitu sich. Aang pun pergi dengan tergesa-gesa meninggalkan kami yabg tersisa tinggal tiga orang. Tak lama berselang sekumpulan wnita menyapa ayuk dan mengajak ayuk buat gabung, ternyata mereka temen-temen ayuk. Ayuk pun pamit mau jalan-jalan bareng sama temen temenya. Setelah makan siang Mbak Lia mengajak aku untuk mengantar nya ke stasiun untuk membeli tiket ke jakarta.
Setelah membeli tiket kami berdua kembali pulang kerumah dan mengemasi barang barang nya. Sore itu aku sendiri yang menghantar Mbak lia, padahal aku sudah menghubungi temen temen ku lewat sms tapi mereka tak ada satu pun yang datang karena kesibukan mereka masing masing. Kami pun tiba di di stasiun, kami langsung duduk duduk dan minum minuman dingin di sekitar stasiun. Saat itu suasana menajdi agak berkabung, aku melihat Mbak Lia menundukan kepalanya dan wajah nya tertutupi rambut panjang nya yang terutai. Aku coba dekati Mbak Lia dan kuberanikan diri untuk bertanya. Setelah agak dekat aku menyadarai bahwa mbak lia sedikit menangis, aku pun bertana kepadanya sesungguh nya apa yang terjadi. Mbak Lia menjawab “aku pengen seperti dulu lagi,saat kita masih kecil dan bermain bersama teman teman” aku hanya amamu menjawab “yah beginilah hidup Mbak kita akan selalu menuju ke masa depan dan tak akan mungkin kita kembali ke masa lalu, memang sich kita harus bisa menikmati hidup ini apabila kita mau betah hidup di dunia ini.
Tak lama kemudian kereta yujuan jakarta datang. Sebelum berpisah mbak lia memberikan sebuah gelang, dia menyuruh ku untuk menjaganya. Tak lama kemudin kereta tersebut berangkat ke arah barat menuju Jakarta dan mbak lia dapat melihat saya lewat kaca jendela. Aku tau saat itu mbak lia menangis, sebab saat memberikan gelang dia nampah tersedu dan sebuah air menetes di tangan ku. Saat kereta semakin jauh Mbak lia melambaikan tangan kanan nya sedang kan tangan kirinya menutupi tangisan nya.
Setelah mbak lia pergi aku kembali kerumah dan merenungkan hal tersebut . walau pun hanya 2 hari bersama seorang sahabat yang jarang bertemu. Memang kesetian seorang sahabat dapat di uji ketika kita jauh dan tak bersama.


Sampai saat ini aku tak tau kabar tentang mbak lia di jakarta sana padahal aku sudah memberika nomor hape ku.

Aku ignin meminta maaf kepada orang-orang yang ku sebut dalam cerita sebab aku tak meminta ijin..thx ya..

CREATED BY:
Mr.Dhe

liad saja tulisanku men !